Gue khususnya yang cuma bermodalkan ijazah D3 bisa dengan santainya bisa cuma duduk-duduk manis di meja yang cukup lega atau mungkin agak mondar-mandir dan mungkin sebagian besar gue hanya mengawasi dan melaporkan, dan lagi-lagi mungkin muka sedikit mumet pas lagi agak sibuk tapi at least gue cukup dibahagiakan disini, ditemani musik, di swing-swing in AC yang dinginnya pas, dan tentunya dengan akses internet yang cukup bebas meskipun seringnya agak lemot.
Dan mari gue bandingin sama foto dibawah ini.
Pemasangan sambungan listrk yang ada tentunya banyak kemungkinan human error entahlah itu mendadak bertegangan atau bahkan kesalahan takdir = kecelakaan.

Painting tembok gedung hanya bermodalkan bambu yang diiket satu sama lain dan yes mereka menaikinya tanpa alat safety.
Cleaning tumpahan batubara yang sebagian besar sudah jadi abu yang sekali sapu mereka akan kabur terbang-terbang karena mereka hanyalah abu. Dan setiap hari mereka harus menghadapi itu dengan hidung dan mulut hanya dilindungi selembar kain bekas. Bisa kalian bayangkan gimana kabar paru-paru mereka.
Begitu mereka bener-bener berpeluh keringat buat ngidupin keluarga nya. Mengerahkan semua tenaga dan waktunya. Dan kalian liat sendiri begitu beresiko dan ga safety nya pekerjaan mereka. Kadang gue bener-bener merasa ketidakadilan.
Dan ya, ini kita yang jauh lebih lebih segalanya dari mereka. *maap buat teman-teman saya yang udah jadi model.
Bersyukurlah kalian untuk orang tua yang masih bisa memberi kalian materi untuk bisa menempuh pendidikan. Dan mungkin kalian menganggap basi kata-kata gue yang ini: plis jangan buat ilmu kalian sia-sia. dan say alhamdulillah plis buat keadaan kalian yang sudah merasa lebih beruntung dari mereka.

bersyukur ane msh bisa kuliah..
BalasHapus