Rabu, 22 Juli 2009

Kol Holic :D


Awalnya sih gara2 gue suka yang warna ijo2, soalnya warna ijo klo diliat tuh bikin mata seger. Makanya gue suka sama sayuran. Beuhh apalagi kalo makan sambel, ato ayam bakar, ato apa aja yang pake sambel, pasti yg warna ijo2 itu dilahap. hehehe. Enak koq rasanya, kaya daun singkong, selada, pokonya yang ijo2 gitu deh. Sayuran kayanya gue suka semua deh, kecuali yang ada pahit2nya, kaya daun pepaya, wortel, wortel kan ada bau nya, makanya gue ga suka.

Kenapa judul artikel ini Kol Holic?

Karna gue baru sadar sejak gue di jakarta, sejak di deket kosan ada tempat makan ayam bakar enak bgt, dan lalapannya cuma kol sama timun. Pedahal warna kol jauh dari warna ijo. Hehehe, tapi dari sejak itu gue jadi suka banget sama kol. Sampe2 kalo gue beli siomay yang campur baso tahu nya itu, kan suka ada kol nya, dari 6 biji, kol nya 4, dan tahu nya cuma 2. Heu.. abis nya enak, ada bunyi 'krek' kalo dimakan. Ga lembek.

Sejak di jakarta juga gue jadi suka makan capcay. Soalnya gue nemuin tempat dimana capcay tuh rasanya enak. Pedahal isi capcaynya cuma brokoli, kembang kol, ayam, wrtel, saosin sama sawi. Eh apa emang capcay isinya gitu ya?? xixixixi. Tapi wortelnya jarang gue makan, abis kaya masih mentah, masih ada bau nya. Kalo wortel di sayur sop gue masih suka. :)


Sekarang gue malah jadi penasaran, gue makan kol banyak sebenernya ada manfaatnya ga sih. Mulai deh minta bantuan si om. Dan ini hasilnya :

Ternyata kol bukan hanya untuk sup. Kol memiliki banyak khasiat bagi kesehatan, terutama peranannya sebagai pencegah kanker. Kol atau disebut juga kubis termasuk dalam famili Brassicaceae atau Cruciferae yang memiliki kemampuan dalam mencegah kanker. Contoh sayuran lain yang berasal dari famili ini adalah brokoli, lebak, dan kembang kol. Kol berasal dari kawasan Mediterania dan sudah dikenal sejak 2500-2000 SM.


Mulanya di Eropa kol dianggap sebagai gulma yang tumbuh liar di sepanjang pantai laut tengah. Kol mulai ditanam di kebun-kebun Eropa kira-kira abad ke-9 dan dibawa ke Amerika oleh emigran Eropa serta ke Indonesia abad ke-16 atau ke-17. Setelah itu, kol mulai digunakan sebagai makanan dan obat.


Sumber antioksidan dan anti kanker


Kol kaya akan vitamin C dan vitamin E yang berperan sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas yang dapat menghancurkan sel sehat serta membuang racun dari dalam tubuh. Antosianin, pigmen pemberi warna merah kebiruan pada kol merah juga berperan sebagai antioksidan.


Kol memiliki bau khas yang tajam, terutama jika dijus. Bau ini berasal dari komponen sulfur berupa senyawa fitokimia yang disebut indol. Penelitian membuktikan bahwa indol dapat mencegah kanker payudara dengan cara menghambat hormon estrogen, sehingga memacu tubuh untuk menghasilkan enzim yang menghalangi pertumbuhan sel kanker baru.


Indol juga memiliki kemampuan mengubah estradiol, hormon mirip estrogen yang berperan dalam perkembangan sel kanker, menjadi estrogen dalam bentuk yang lebih aman. Penelitian di Cina yang dimuat dalam jurnal Cancer Research menegaskan bahwa wanita yang rutin menyantap kol memiliki risiko lebih rendah terkena kanker payudara.

Penelitian terbaru di Inggris juga menemukan bukti bahwa konsumsi kol dapat menghambat kanker kolon. Hal ini berhubungan dengan kandungan isothiocyanate, senyawa fitokimia yang akan menghancurkan sel tumor dengan cara mengganggu replikasi sel tumor.


Kol juga mengandung sulforaphane yang efektif melawan kanker payudara dan kanker kolon dengan cara menstimulasi produksi enzim yang disebut glutathione, yang bekerja memindahkan toksin dari kolon, dan membuangnya dari tubuh sebelum toksin itu merusak sel.

Mengobati maag

Sejak zaman Romawi kuno, kol sudah digunakan untuk penyembuhan sakit maag. Kol mengandung asam amino glutamin yang dapat meningkatkan aliran darah ke perut, memberikan nutrisi bagi sel dalam lambung dan usus halus, membantu melindungi lapisan perutserta mengobati luka pada saluran pencernaan. Jus kol mentah sudah terbukti efektif untuk mengobati sakit maag.

Penelitian yang dilakukan di Sekolah Kedokteran Universitas Stanford menyatakan, 13 orang responden berpenyakit maag yang minum 1 liter jus kol per hari (dibuat dari 250 gram kol), menunjukkan perbaikan 6 kali lebih cepat daripada mereka yang hanya menyantap makanan yang dihaluskan.


Dr Michael T. Murray, ahli naturopati di Bellevue Washington, Amerika Serikat, menganjurkan agar penderita maag minum dua cangkir jus kol sehari. Kol sebaiknya tidak dimasak karena akan menghilangkan glutaminnya. Kol mentah juga membantu melancarkan proses pencernaan dan mencegah konstipasi. Ini berhubungan dengan kandungan serat makanan, mineral besi, dan sulfur dalam kol yang berperan membersihkan sistem pencernaan.


Jangan berlebihan


Meskipun demikian, para ahli mengingatkan agar tidak makan kol secara berlebihan. Porsi yang dianjurkan untuk memperoleh manfaat kesehatan dari kol hanya dua sampai tiga mangkuk dalam satu minggu. Dalam kol tersimpan senyawa goitrogenik yang dapat mengganggu fungsi kelenjar tiroid sehingga merangsang pembengkakan kelenjar gondok di leher. Memasak kol dapat membantu inaktivasi komponen goitrogen yang ada dalam kol.

Namun, belum jelas berapa persen komponen goitrogen yang mengalami inaktivasi oleh pemasakan. Untuk keamanan, orang yang punya masalah tiroid sebaiknya menghindari konsumsi kol atau berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum menyantap kol. Selain itu, beberapa orang cenderung mengalami kembung setelah makan kol akibat gas yang dihasilkan oleh kol.

Untuk mencegah kembung, biasakan mengunyah kol sampai halus, karena pada dasarnya makanan apapun yang tidak tercerna dengan baik dapat menyebabkan terbentuknya gas dalam saluran pencernaan. Atau dijus saja karena zat penyembuhnya lebih banyak keluar jika kol dikunyah halus atau dijus.

Artikel ini gue dapet dari site dinas kesehatan. Jadi insyaallah lah bener informasinya. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar